CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Kamis, 31 Juli 2008

Orang Biak Dapat Apa?

KOMPAS
Kamis, 06 September 2007



peluncuran roket
Orang Biak Dapat Apa?

Aryo Wisanggeni Genthong

Hari Kamis ini Presiden Rusia Vladimir Putin berkunjung ke Indonesia
selama 20 jam. Rencananya, ia

akan menandatangani perjanjian pengembangan Bandar Udara Frans Kaisiepo,
Biak, Papua, sebagai

tempat peluncuran roket atau air launch system/ALS.

Pertanyaannya, bagi masyarakat Biak, apakah kerja sama itu memberikan
manfaat atau tidak?

Rabu (5/9) sore langit mulai merah ketika sirene keras menelan suara
deburan ombak pantai Kampung

Ambroben. Beberapa gadis yang sedang mencuci ikan tangkapan di pantai
terlihat masih bersenda

gurau, tetapi suara mereka tenggelam oleh lengkingan sirene Bandar Udara
Frans Kaisiepo.

"Itu tanda peringatan ada pesawat mau mendarat. (Juga) peringatan agar
orang tidak melintasi landas

pacu," kata tokoh wilayah adat Swapodibo, Mananuir Yan Pieter Yarangga.
Tak berapa lama kemudian

memang terdengar deru mesin pesawat di langit di atas rumah Yarangga yang
berjarak sekitar 500

meter dari bandara.

Belakangan, bandara yang dibangun tentara Jepang tahun 1943 itu kembali
menarik perhatian. Setelah

lama tidak terdengar, rencana pembangunan ALS Rusia dari bandara itu
bergaung lagi. Bahkan,

perjanjian untuk itu akan ditandatangani Presiden Putin Jumat besok.

Sayangnya, masyarakat di wilayah adat Swapodibo justru gundah. Pasalnya,
Bandara Frans Kaisiepo

secara adat merupakan bagian dari tanah ulayat Swapodibo. Terdapat enam
marga yang secara

bersama-sama memiliki tanah ulayat itu, yakni Rumaropen, Wakum, Ronsumre,
Rumbiak, Simopieref,

dan Yarangga.

"Kami selaku pemilik ulayat tidak pernah diajak bicara soal ALS. Tanah
kami dirampas Jepang ketika

mereka membangun lapangan terbang pada 1943. Ketika Belanda kembali
menguasai Biak, Belanda

mengambil alih lapangan terbang itu. Setelah Penentuan Pendapat Rakyat,
Pemerintah RI mengambil

alih lagi lapangan terbang itu dan secara sepihak menerbitkan sertifikat
Bandara Frans Kaisiepo pada

tahun 1996. Kini lapangan terbang itu akan menjadi pusat bisnis peluncuran
satelit dan kembali lagi,

posisi kami selaku pemegang ulayat dalam bisnis itu tidak jelas," kata
Yarangga.

Yarangga bisa membayangkan betapa hiruk-pikuknya jika ALS benar-benar
terwujud. "Pertumbuhan

ekonomi dan peluang bisnis pasti muncul dengan adanya ALS, tetapi saya
belum bisa membayangkan

apa manfaat ALS bagi kami, para penduduk lokal dan pemilik tanah ulayat,"
katanya.

"Data Papua dalam Angka 2006" menyebutkan, hingga tahun 2004 sekitar
50.400 jiwa penduduk

Kabupaten Biak Numfor tergolong miskin dan miskin absolut. "Sebagian besar
penduduk asli Biak

adalah nelayan yang mengandalkan pendapatan tambahan dari menjual
kelebihan ikan tangkapan

mereka. Berbisnis mereka belum mampu. Jadi, saya belum percaya bahwa orang
Biak akan mampu

memanfaatkan peluang yang timbul dari keberadaan ALS," kata Yarangga.

Pertanyaan besar pun muncul, apakah benar ALS adalah jalan bagi 50.400
penduduk miskin di Biak

untuk mengangkat kesejahteraan mereka?

Posisi strategis

Dalam artikelnya berjudul "Rusia Incar Biak" (Kompas, 19/12/2005) Moch S
Hendrowijono menyebut

dua modal Biak untuk menangguk keuntungan miliaran rupiah bisnis
peluncuran satelit, yaitu dekat garis

khatulistiwa dan dekat laut. Letak geografis Bandara Frans Kaisiepo di
01°11’31’’ Lintang Selatan dan

136°06’36’’ Bujur Timur membuatnya dekat dengan garis khatulistiwa—garis
imajiner yang menjadi

lokasi orbit satelit—sekaligus dekat Samudra Pasifik.

"Posisi kami memberikan banyak keunggulan untuk bersaing dalam bisnis
peluncuran satelit. Biaya

peluncuran satelit dari Cape Kennedy, AS, mencapai 35.000 dollar AS per
kilogram bobot yang

diluncurkan, sementara biaya peluncuran satelit dari Biak hanya 3.500
dollar AS per kilogram," kata

Bupati Biak Numfor Yusuf M Maryen.

Biak adalah pulau yang seluruhnya berupa karang sehingga menggali tanah di
Biak, untuk bercocok

tanam, misalnya, adalah pekerjaan yang sangat berat. Akan tetapi, dari
kacamata penerbangan,

kerasnya karang justru modal berharga yang menjadikan 3.570 meter landasan
pacu Bandara Frans

Kaisiepo sebagai salah satu landasan pacu terkuat di Indonesia.

"Landasan pacu itu tidak pernah dilapis ulang sejak tahun 1961. Kerasnya
karang membuat landasan

pacu itu tidak pernah rusak. Landasan pacu itu mampu menahan sampai 400
ton lebih," kata General

Manager Bandara Frans Kaisiepo Purwanto.

Sebagai sistem peluncur satelit dari pesawat terbang, ALS memang
membutuhkan landasan pacu yang

kuat. Dengan sistem ALS, satelit tidak akan dibawa pesawat ulang alik yang
meluncur dari Bumi dengan

posisi vertikal, sebagaimana peluncuran pesawat ulang alik di Cape Kennedy.

Satelit akan diorbitkan roket yang diluncurkan dari udara, setelah
sebelumnya roket itu diterbangkan

pesawat Antonov An-124 100AL menuju Samudra Pasifik, 600 kilometer arah
utara Biak. Di ketinggian

11.000 meter di atas permukaan laut, roket dilontarkan dari pesawat,
kemudian meluncur menuju orbit

satelit.

Asisten Manajer Personalia dan Umum Bandara Frans Kaisiepo Andy Bakker
menjelaskan, bobot mati

Antonov An-124 100AL 175 ton, sedangkan bobot roket peluncur satelit
diperkirakan 120 ton.

Tidak heran jika Yusuf M Maryen menilai karang Pulau Biak yang keras itu
adalah anugerah bagi

99.798 penduduk kabupaten seluas 2.360 kilometer persegi itu.

"Tuhan tidak memberi kami mineral untuk ditambang, tetapi memberi kami
posisi yang strategis. Juga

tanah yang keras dan kuat," kata Maryen.

Bayangan keuntungan pun ada di depan mata. "Secara nonfinansial, anak-anak
kami akan melihat

sendiri penerapan teknologi angkasa dan antariksa di Biak. Secara
finansial, kami mengharapkan

royalti dari keuntungan bisnis peluncuran satelit itu. Selain itu,
meningkatnya arus barang dan jasa di

Biak juga menguntungkan masyarakat," kata Maryen.

Yarangga lebih hati-hati. "Ini proyek skala internasional. Jadi, harus ada
penjelasan yang utuh apa

jaminan keuntungan bagi masyarakat lokal jika proyek itu dilanjutkan. Apa
posisi kami selaku pemegang

ulayat? Ikut menjadi pemegang saham atau terpinggirkan begitu saja. Apakah
anak-anak kami menjadi

bagian sesungguhnya dari kegiatan itu atau hanya menonton?"

---

0 komentar: